Kompetensi Literasi dan Numerasi Tergolong Rendah, Ini Langkah Kemdikbudristek – Dilansir dari laman kemdikbud.go.id, Kita sebagai negara dengan sistem pendidikan terbesar ke-3 di Asia dan ke-4 terbesar di dunia, negara Indonesia memiliki lebih dari 50 juta peserta didik, 3 juta pendidik, dan 400 ribu sekolah. Merujuk data Rapor Pendidikan Indonesia pada tahun 2023, sebanyak 61,53% peserta didik jenjang sekolah dasar, 59%  peserta didik jenjang sekolah menengah pertama, dan 49,26%  peserta didik jenjang sekolah menengah atas yang memiliki kompetensi literasi di atas standar minimum. Ini berarti masih banyak peserta didik di Indonesia yang perlu ditingkatkan kompetensi literasi dan numerasinya.

Untuk itu, Pelaksana tugas (Plt.) Direktorat Sekolah Menengah Pertama (Direktorat SMP), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), I Nyoman Rudi Kurniawan, mengatakan, perlu gerakan masif dari berbagai pemangku kepentingan, baik dari pemerintah, pihak swasta, maupun masyarakat, untuk menumbuhkan kebiasaan membaca dalam proses pembelajaran peserta didik.

“Kecakapan literasi peserta didik di tingkat dasar perlu ditingkatkan secara efektif melalui berbagai cara. Salah satunya membangun kolaborasi yang kuat antarpemangku kepentingan,” ungkap I Nyoman, dalam sambutannya secara virtual pada acara Gelar Wicara dengan tema “Daya Kolaborasi: Pemulihan Pembelajaran melalui Penguatan Literasi”, di SMP Negeri 17 Kota Mataram, Rabu (13/12/23).

Menurutnya, saat ini daya kolaborasi antarpemangku kepentingan dalam upaya peningkatan literasi belum dimanfaatkan secara optimal. “Perlu kiranya, kepala sekolah, pendidik, dan pihak lain mendapatkan inspirasi strategi menggelorakan kolaborasi sebagai salah satu kekuatan untuk meningkatan literasi,” lanjutnya.

Beliau berharap, para pemangku kepentingan dapat memahami bagaimana cara meningkatkan kerja sama dan kolaborasi dalam upaya meningkatkan literasi peserta didik. “Semoga sahabat literasi, dapat menyebarluaskan semangat perubahan ini di satuan kerja dan satuan pendidikan lainnya,” pungkas I Nyoman.

Dalam kesempatan tersebut, Asisten I Sekretaris Daerah Pemerintah Kota Mataram, Lalu Martawang mengungkapkan, penguatan literasi di daerah sangat dibutuhkan untuk mendukung pemulihan pembelajaran pascapandemi Covid-19. Oleh sebab itu, beliau berharap melalui gelar wicara ini dapat menjadi pendorong para pemangku kepentingan untuk menguatkan literasi peserta didik di Indonesia, khususnya di Lombok.

“Saya harap melalui kegiatan ini, kita dapat menyamakan visi dalam melakukan transformasi pendidikan, serta dapat memberikan pengetahuan terkait strategi para pemangku kepentingan dalam membenahi literasi dan menyusun rencana tindak lanjut untuk pemulihan komunitas belajar,” ungkap Martawang.

Sebagai upaya penguatan literasi di Kota Mataram, kata Martawang, pemerintah kota akan membangun perpustakaan daerah di pintu masuk kota Mataram atau di seputaran Tembolak Lingkar Selatan. “Ini bukti, bahwa Pemerintah Kota Mataram secara serius memperhatikan literasi. Di samping itu, kita juga akan menerapkan pojok baca di setiap sekolah,” tambah Martawang.

Perlu diketahui bersama bahwa SMPN 8 Surakarta dalam upaya penguatan literasi ini sudah melakukan pembiasaan kepada peserta didik untuk membaca buku non mapel pada 15 menit sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

Pembiasaan ini biasanya diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia raya dilanjutkan dengan lagu bertemakan penguatan karakter, kemudian do’a dan dilanjutkan dengan kegiatan pembiasaan berupa literasi yang dimaksud.

Dalam upaya menguatkan literasi dan menumbuhkan minat baca, pada gelar wicara ini, Kemendikbudristek secara simbolis menyerahkan buku fiksi dan ilmiah kepada kepala sekolah SMP Negeri 17 Kota Mataram. Penyerahan buku ini merupakan bagian dari program Kemendikbudristek dalam mendistribusikan 15 juta eksemplar buku bacaan bermutu ke sekolah – sekolah di daerah 3T dan sekolah yang memerlukan intervensi khusus.

“Kita distribusikan juga buku fiksi dan ilmiah ke sekolah-sekolah di seluruh daerah di Indonesia. Harapannya dapat merangsang minat baca para peserta didik khususnya di tingkat dasar. Pendidik juga harus menjadi contoh literasi di lingkungan sekolah agar peserta didik tidak malas membaca,” pungkas Analis Kebijakan pada Direktorat SMP, Suhartono Arham.

Semoga informasi ini dapat menambah pengetahuan kita dan dapat tercapai Pemulihan Pembelajaran melalui Penguatan Literasi.

Share Post