PENERAPAN NGELMU IKU KALAKONE KANTHI LAKU DALAM PENDIDIKAN

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian penerapan adalah perbuatan menerapkan, sedangkan menurut beberapa ahli, penerapan adalah suatu perbuatan mempraktekkan suatu teori, metode, dan hal lain untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu kepentingan yang diinginkan oleh suatu kelompok atau golongan.

Menurut Usman penerapan ( implementasi )adalah bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya mekanisme suatu Menurut sistem.Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan.Sedangkan menurut Setiawan penerapan ( implementasi ) adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana, birokrasi yang efektif.

            Berdasarkan pengertian seperti tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa penerapan ( implementasi ) bermuara pada aktifitas, adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu sistem. Suatu perbuatan mempraktekkan suatu teori, metode, dan hal lain untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu kepentingan yang diinginkan oleh suatu kelompok atau golongan yang telah terencana dan tersusun sebelumnya.

            Ngelmu iku kalakone kanthi laku atau menguasai ilmu itu tercapainya harus melalui proses / perjalanan secara lahir maupun batin. Menurut pandangan masyarakat Jawa, ngelmu ( menjadikan ilmu itu merupakan perilaku yang penyerapannya memerlukan kekuatan indera batin juga dengan penghayatan secara pribadi, artinya tidak beraktivitas otak atau pikiran saja.

            Perlu untuk diketahui bahwa ungkapan “ngelmu iku kalakone kanthi laku” merupakan nasehat dalam Bahasa Jawa yang terdapat dalam Serat Wulangreh yang dibuat oleh Pakubuwono IV yang berarti bahwa ilmu itu baru dapat dipahami dengan sebenar-benarnya melaui penerapan dalam tingkah laku atau perbuatan. Kalimat lengkapnya adalah ngelmu iku kalakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kan nyantosani, setya budya pangekese durangkara ( Pakubuwono IV dalam Serat Wulangreh ). Artinya ilmu itu bisa dipahami/ dikuasai harus dengan cara, cara pencapaiannya dengan cara kas, artinya kas berusaha keras memperkokoh karakter, kokohnya budi (karakter) akan menjauhkan diri dari watak angkara (sumber: wikipedia, diakses 13 November 2019). 

            Pengertian pendidikan dalam bahasa Inggris berarti education. Sedangkan dalam bahasa latin berarti educatum yang berasal dari kata E dan Duco, E berarti perkembangan dari luar dari dalam ataupun perkembangan dari sedikit menuju banyak, sedangkan Duco berarti sedang berkembang. Dari sinilah, pendidikan bisa juga disebut sebagai upaya guna mengembangkan kemampuan diri. Menurut Wikipedia, pendidikan ialah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, serta kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya melalui pengajaran, penelitian serta pelatihan.

Sedangkan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang ataupun kelompok dalam upaya mendewasakan manusia melalui sebuah pengajaran maupun pelatihan. Menurut Ki Hajar Dewantara, ia mengemukakan bahwa pengertian pendidikan ialah tuntunan tumbuh dan berkembangnya anak.

Artinya pendidikan merupakan upaya untuk menuntun kekuatan kodrat pada diri setiap anak agar mereka mampu tumbuh dan berkembang sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat yang bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam hidup mereka.

Pendidikan juga bisa dijalani melalui 2 hal yakni pendidikan formal dan non formal.1) Pendidikan formal ialah pendidikan yang bisa didapat dengan mengikuti kegiatan atau program pendidikan yang terstruktur serta terencana oleh badan pemerintahan misalnya melalui sekolah ataupun universitas.2) Pendidikan non formal ialah pendidikan yang bisa didapat melalui aktivitas kehidupan sehari-hari yang tak terikat oleh lembaga bentukan pemerintahan, misalnya belajar melalui pengalaman, belajar sendiri melalui buku bacaan serta belajar melalui pengalaman orang lain.

Pengertian pendidikan seperti tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan merupakan salah satu hal terpenting dalam kehidupan sesorang. Pendidikan lah yang menentukan dan menuntun masa depan dan arah hidup seseorang. Walaupun tidak semua orang berpendapat seperti itu, namun pendidikan tetaplah menjadi kebutuhan manusia nomor wahid. Bakat dan keahlian seseorang akan terbentuk dan terasah melalui pendidikan. Pendidikan juga umumnya dijadikan tolak ukur kualitas setiap orang.

Mencari ilmu itu sebenarnya tidak cukup hanya dilakukan di bangku sekolah saja tanpa implementasi dalam dunia nyata. Di sekolah ilmu didapatkan hanya sekedar dengan teori saja. Apabila terjun langsung menerapkan teori ke dalam dunia nyata akan berbeda rasa dan penjiwaannya. Walaupun hanya sekedar teori saja namun harus tetap dilakukan dengan kesabaran, keuletan bahkan pantang menyerah melakukan pembelajaran dengan jarak jauh karena pandemi covid-19 seperti sekarang ini. Pendidikan yang diajarkan oleh Bapak / Ibu Guru banyak sekali nilai-nilai kemulyaan, walaupun seringkali dikatakan banyak Peserta Didik yang merasa berat dalam menerima teori di bangku sekolah.

Setiap manusia membutuhkan ilmu yaitu ilmu lahir dan ilmu batin. Ilmu lahir merupakan kebutuhan mengenai semua hal yang berguna untuk kebutuhan lahiriyah. Namun belum bisa memenuhi kebutuhan batin seperti ketenteraman dan kemuliaan batin. Untuk memenuhi ilmu yang berhubungan dengan batin yaitu dengan melaksanakan ajaran agama yang diyakini atau didisebut dengan ilmu kenyataan yang mendasarkan pada Allah. Apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh dalam melaksanakan akan mendapatkan bekal hidup secara lahir maupun batin.

Ngelmu iku kalakone kanthi laku tersebut bisa ditelaah bahwa ilmu merupakan salah satu sarana untuk bisa menjauhkan / menghindari semua hal yang tidak tahu menjadi tahu karena ilmu. Ngelmu / ilmu dan laku merupakan sesuatu rangkaian yang mutlak. Laku dalam hal ini selalu berusaha, dengan sungguh-sungguh tanpa menyerah untuk memahami ilmu tersebut. Oleh karena itu orang akan merasa tercapai keinginannya harus tahu tentang ilmunya,tanpa tahu bisa dipastikan akan sengsara dalam kehidupannya.

Pendidikan dengan ilmu tidak bisa dipisahkan begitu saja, karena jika berhenti dalam mencari ilmu akan tidak tahu apa-apa. Namun sistem pendidikan perlu juga untuk disesuaikan dengan tuntutan zamannya agar pendidikan dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkualitas. Melalui pendidikan akan menggali dan menanamkan perilaku yang baik. Perilaku  baik yang bagaimana?

Dalam mencari ilmu harus berusaha dengan sungguh-sungguh berikhtiar atau pantang menyerah, karena niat tanpa ada usaha yang sungguh-sungguh tidak akan mendapatkan hasil yang maksimal. Kejujuran merupakan salah satu landasan yang penting dalam falsafah “ngelmu iku kalakone kanthi laku”. Dengan modal sifat jujur dalam penerapan ilmu tersebut tidak akan menyimpang dari aslinya. Dalam era globalisasi sifat jujur merupakan filter yang ampuh untuk menyaring budaya / pengaruh luar yang mungkin menyesatkan. Jangan percaya kalau yang jujur pasti hancur, tetapi percayalah siapa yang jujur pasti akan luhur / makmur.

Perilaku yang lain adalah berani berkata benar dan sabar. Untuk menumbuh kembangkan sisi kemanusiaan pada anak harus ditanamkan sejak usia dini yaitu satu sikap untuk berani berkata benar dan salah, jangan malah dibalik yang salah jadi benar dan yang benar disalahkan. Ini sepertinya sepele, sederhana tetapi kalau tidak dibiasakan sejak dini akibatnya pasti tidak akan ada manipulasi kebohongan-kebohongan lagi. Sikap berani berkata benar dan sabar adalah salah satu perilaku yang merupakan ajaran luhur untuk menjunjung nilai-nilai kamanusiaan dalam hidup. Kesabaran di sini menekankan pada proses dalam mendapatkan/mencari ilmu pengetahuan tidak pantang menyerah. Jangan pernah lupa hal mendasar dalam pendidikan adalah memanusiakan manusia dan belajar untuk hidup.

Dengan pernyataan tersebut di atas bisa disimpulkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal pada falsafah “Ngelmu iku kalakone kanthi laku” yang mendasarkan juga pada Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV pada “tembang Pucung” meliputi nilai-nilai moral yaitu berusaha/berikhtiar, kejujuran, sabar, dan berani berkata benar.

Sedangkan penerapan untuk nilai-nilai kearifan lokal pada falsafah “Ngelmu iku kalakone kanthi laku” di dalam jalur pendidikan, baik pendidikan formal, informal, dan nonformal serta pendidikan sesuai dengan tingkat / jenjang pendidikan dari pendidikan usia dini, pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, ternyata masih relevan untuk diterapkan.

Pada pendidikan sesuai dengan jalur dan jenjang / tingkat pendidikan ini, kearifan lokal yang berisikan nilai-nilai kejujuran, kesabaran, usaha sungguh-sungguh dan berani berkata benar, bila benar-benar berhasil ditanamkan lewat pendidikan yang berfungsi mencerdaskan bangsa, akan dihasilkan pula manusia-manusia yang berdaya guna dalam kehidupan manusia, yaitu manusia yang sadar budaya. Dan pada gilirannya, kearifan lokalpun dapat dijadikan semacam simpai perekat dan pemersatu antar generasi.

Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta, Jawa Tengah.

Share Post

Tentang

SMP Negeri 8 Surakarta merupakan salah satu SMP Negeri yang ada di Surakarta, yang beralamat di Jalan HOS Cokroaminoto No. 51, Jebres, Kota Surakarta.

Calendar

August 2021
M T W T F S S
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031