Ilmuwan adalah cita-citanya sewaktu masih kecil. Impian tersebut telah membuat beliau termotivasi untuk belajar dan belajar. Alhasil, beliau selalu menjadi bintang kelas ketika masih belajar di sekolah dasar. Beliau tidak lain adalah orang nomer satu di SMP Negeri 8 Surakarta, bapak Triad Suparman, M.Pd.¬† “Saya selalu masuk dalam the best ten students” ungkap beliau ketika ditanya tentang prestasi akademiknya ketika di SMP.

Menurut pria kelahiran 15 Februari 1969 itu, selepas menamatkan SMP di kota kecamatan kelahirannya, yaitu di Masaran, Sragen, beliau mengambil jurusan A1 (Sekarang jurusan IPA, red) ketika belajar di SMA. Untuk merealisasikan impianya, setamat SMA, beliau melanjutkan studinya di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS program IPA Fisika.

Ketika ditanya tentang perubahan ambisinya dari ilmuwan menjadi seorang guru, suami idaman seorang Tenaga Analisis Kesehatan,  Ratmi Puji Hastuti, ini berargumen bahwa profesi profesi guru (mata pelajaran IPA-Fisika)  dengan ilmuwan tidaklah memiliki perbedaan yang signifikan. Beliau lebih lanjut menandaskan bahwa profesi yang dijalani sekarang ini tidaklah meninggalkan idealisme untuk menjadi seorang ilmuwan seraya mengatakan  “Aku telah menjadi seorang  ilmuwan di lembaga pendidikan, bukan?”

Mengawali karir gurunya  di SMP 2 Karang Tengah Demak sebagai CPNS pada tahun 1992 sebagai guru IPA-Fisika. Tujuh tahun kemudian, beliau pindah di SMP Negeri 10 Surakarta. Setelah mengabdi di sekolah itu selama 14 tahun beliau mengajukan diri untuk ikut perekrutan calon kepala sekolah. Luar biasa, beliau berada di peringkat pertama dan men-dapatkan SK per-tamanya sebagai kepala sekolah di SMP Negeri 24 Surakarta pada tahun 2013. Setelah menjabat selama 3 tahun, tepatnya tahun 2016, beliau dialihtugaskan di SMP Negeri 19  Surakarta sebelum menjabat sebagai kepala sekolah di SMP Negeri 8 dari 28 Februari 2018 sampai sekarang.

Walaupun belum genap satu tahun menjadi  orang nomer satu di sekolah favorit bagi masyarakat Solo bagian timur,  ayah kebangaaan kedua putra-nya,  Muhammad Hilal Al Ghofiri dan Muhammad Naufal Abdillah ini telah menorehkan tinta emas di sekolah ini. Peluncuran program Sistem Imple-mentasi dan Managemen Limbah Delapan Solo (disingkat SIMBAH DESO) telah menjadi salah satu penilian tersendiri untuk mengantarkan  SMP Negeri 8 dalam meraih penghargaan di tingjat nasional sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional tahun 2018. Bukankah inovasi sekolah ini terinspirasi oleh sisi keilmuan beliau?

        Sebelum mengakhiri wawancara beliau, sosok yang rendah hati, murah semyum, dan bermotto hidup  “Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain” ini berpesan kepada semua peserta didiknya bahwa semoga  ilmu yang didapatkan dari  SMP Negeri 8 Surakarta selama 3 (tiga) tahun akan menjadi bagian untuk meraih sukses dalam hidup. “Hidup Depanska! Maju, maju, dan terus maju”

Share Post